Mengenal Lebih Dekat Perintis Lunasbos, Aplikasi Pencatat Hutang Dua Arah Pertama di Indonesia

84 / 100 SEO Score

Pengalaman pahit menagih hutang membuat Adjie Purbojati terinspirasi untuk menciptakan aplikasi Lunasbos. Sebuah aplikasi pencatatan hutang dua arah yang dapat menjadi solusi agar memudahkan peminjam dan pemberi pinjaman untuk auto-ingat dan auto-nagih hutang dan piutang masing-masing.

perintis Lunasbos Adjie Purbojati
Co-Founder Aplikasi Lunasbos
Sumber: Linkedin Adjie Purbojati

“Sebagian orang Indonesia kan masih ada yang mempertahankan kultur enggak enak kalo nagih hutang, nah harapannya dengan Lunasbos mereka enggak akan sulit lagi untuk meminta kembali uang mereka,” ujar Adjie yang diwawancarai via telepon pada Kamis, 21 November 2019.

Adjie juga menambahkan dengan adanya pencatatan dua arah yang otomatis, maka segala transaksi cicilan ataupun iuran menjadi jelas. Jika peminjam telah membayar cicilan atau melunasi hutang, maka saat transaksi itu terjadi salah satu pihak akan mencatatnya di aplikasi yang otomatis akan terbarui informasinya di aplikasi pihak lainnya. Sasaran pengguna utama mereka selain individu adalah UMKM. Adjie menceritakan bagaimana ia dan rekannya melakukan survei terhadap 2.000 pemilik warung, angkringan, dan toko kelontong di kota Yogyakarta terkait pencatatan hutang. Ia menemukan bahwa penggiat UMKM tersebut adalah yang paling sering menjadi korban hutang tak terbayar oleh pembeli setia mereka. “…selain itu mereka masih melakukan pencatatan manual terhadap hutang dan piutang, menulis di kertas memiliki resiko buku hilang atau rusak,” jelas Adjie.

Tantangan Adjie Merintis Lunasbos

Adjie yang sejak menjadi siswa telah menyukai dunia bisnis merintis aplikasi Lunasbos bersama rekan kuliahnya di Universitas Amikom pada akhir tahun 2017. Mereka melakukan patungan untuk modal awal. Lalu pada tahun 2018 Lunasbos mendapatkan dana hibah dari Kementrian Riset dan Teknologi untuk program PBBT (Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi). Dana tersebut mereka gunakan untuk mempekerjakan tambahan tenaga developer, mengakomodasi biaya teknis untuk langganan server, dan urusan legal.

“Ada begitu banyak permasalahan di Indonesia. Cara termudah untuk melihat peluang adalah dengan menjadi lebih sensitif terhadap masalah yang ada, dan bertekad untuk mencari solusi sesuai dengan kapasitas yang kita miliki”. — Adjie

Walaupun dana hibah telah membantu dari sisi finansial, namun Adjie mengakui bahwa tantangan terberat merintis Lunasbos ada pada kelengkapan tim dan penetrasi pasar. “Saat ini sudah ada total 5 orang yang bekerja, namun semuanya berlatar belakang komputer dan desain, jadi untuk pemasaran dan pengembangan bisnis memang belum ada khusus. Tantangan tersulit lainnya adalah mengedukasi pasar untuk menggunakan aplikasi kami karena aplikasi pencatatan hutang dua arah adalah hal yang baru,” ujar penggemar olahraga lari ini. Setelah satu tahun berdiri Lunasbos kini telah diunduh oleh lebih dari 50 ribu pengguna.

Target yang Ingin Dicapai Adjie

Tidak muluk-muluk, Adjie menargetkan akuisisi pengguna meningkat sebanyak 1 juta dalam waktu dekat. “… tapi yang jauh lebih penting sekarang ini adalah menyadarkan masyarakat baik personal dan UMKM bahwa utang itu enggak cukup hanya diingat, tapi juga harus dicatat dan dibayar, sekecil apapun jumlahnya,” ungkap Adjie. Ia bahkan menekankan dalil agama untuk mengingatkan betapa pentingnya membayar hutang karena merupakan hal yang akan dipertanggung-jawabkan ketuntasannya di hadapan Sang Pencipta.

Mengenal Lebih Dekat Perintis Lunasbos, Aplikasi Pencatat Hutang Dua Arah Pertama di Indonesia 1
Adjie bersama tim Lunasbos mendapatkan dana hibah dari Kemenristek
Sumber: Dailysocial

Dari sisi fitur, Adjie juga berencana agar ke depannya Lunasbos akan melebihi fungsinya yang semula hanya aplikasi pencatatan, akan menjadi paltform yang sekaligus terintegrasi dengan rekening bank pengguna sehingga memungkinkan transaksi pembayaran hutang dilakukan langsung via Lunasbos.

“Sekecil apapun hal yang kita miliki sekarang pasti akan memiliki dampak di masa yang akan datang. Saya lebih memilih untuk melakukan sesuatu daripada sekedar diam walaupun tidak ada dampak secara lngsung untuk saat ini, tapi saya yakin suatu saat hal tersebut akan memberi umpan balik”. —  Adjie

Untuk melengkapi keilmuannya di bidang bisnis, Adjie tidak segan untuk melanjutkan studi MBA di salah satu perguruan tinggi ternama di Yogyakarta pada awal tahun depan. Hal tersebut menunjukkan keseriusannya untuk menggarap perusahaan rintisannya yang diberi nama hukum PT. Tuanmuda Inovator Pertiwi.(*)

Comments

  1. cbd oil
    March, 2020
  2. Justin
    March, 2020

Leave a Comment