Bisa Enggak Freelancer Hidup dari Hasil Kerja Online Aja?

Salah satu pertanyaan mendasar yang muncul dalam benak mereka yang ingin terjun sebagai pekerja lepas adalah: bisa nggak freelancer hidup dari hasil kerja online aja? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut sebenarnya perlu pula ditanyakan: bisa nggak pekerja tetap hidup hanya dari gajinya aja?

Jawaban dari kedua pertanyaan tersebut sebenarnya sama, yaitu: bisa dan tidak. Seorang pekerja tetap akan bisa hidup dengan hanya mengandalkan gaji dari perusahaannya saja, sepanjang gaji yang dia terima di atas UMR (upah minimum regional) dan orang tersebut mampu memanage gajinya. 

Tapi jika gaji yang dia terima di bawah UMR dan hal tersebut masih sering dijumpai di banyak perusahaan di Indonesia, maka hampir bisa dipastikan jika orang tersebut akan mencari kerja sampingan untuk dapat menutupi biaya hidup. 

Begitu juga dengan seorang pekerja lepas, jika kemampuannya terhadap bidang yang ditekuni dan dijual kepada klien terbilang pas-pasan, maka jangan berharap memperoleh penghasilan yang besar dari hasil kerjanya sebagai freelancer. 

Sebaliknya, jika kemampuannya di atas rata-rata serta memiliki nilai jual yang tinggi ditambah klien yang menjadi pelanggan cukup banyak, maka dipastikan penghasilan yang dia peroleh cukup besar, sehingga tidak hanya bisa hidup hanya dari hasil kerja online tapi juga dapat menyisihkan penghasilannya untuk ditabung dan berinvestasi. 

Contoh paling gampang adalah penghasilan seorang Youtuber sukses, seperti Ria Ricis yang konon dalam setahun mampu mengumpulkan rupiah sekitar Rp.2,6 – 43 miliar, Atta Halilintar yang kabarnya berpenghasilan sekitar Rp.1,8 – 29,7 miliar dalam setahun atau Raditya Dika yang dari aktivitasnya sebagai Youtuber bisa berpenghasilan sekitar Rp.971 juta – Rp.14,8 miliar.

Freelance Membetot Hati Kalangan Millenial

Fenomena sosial yang menarik tentang pekerja lepas dapat ditemui di sejumlah negara maju, salah satunya adalah Amerika Serikat. Berdasarkan hasil study terbaru yang dilakukan Elance Desk dan Freelancers Union, dari total jumlah angkatan kerja yang ada di Amerika, sebanyak 34 persen memilih untuk menjadi freelancer, mulai dari yang berprofesi sebagai penulis, editor, penerjemah, desainer serta profesi yang lain.

Study lain tentang freelancer dilakukan oleh Brenna Clarine yang menuliskannya di situs Sosial Media Week. Brenna menyebutkan bahwa saat ini terdapat sebanyak 53 juta penduduk Amerika atau sepertiga dari jumlah pekerja yang ada di sana mengais rejeki sebagai freelancer.

Sementara Majalah Forbes dalam salah satu tulisannya membeberkan bahwa sekitar 60% dari generasi millenial di USA mengundurkan diri dari pekerjaan tetap dan memilih bekerja freelance. Forbes juga mengungkapkan bahwa berdasarkan pengakuan para responden, sebanyak 80% mengatakan memiliki penghasilan yang lebih besar sebagai freelancers dibanding saat bekerja sebagai  karyawan kantor.

Lantas bagaimana dengan di Indonesia? Untuk saat ini harus diakui bahwa hanya sebagian kecil saja pekerja lepas yang penghasilannya melebihi pekerja tetap sehingga mayoritas masih menjadikan freelancer sebagai pekerjaan sampingan karena belum mampu bertahan hidup jika hanya mengandalkan hasil kerja online. Hal tersebut disebabkan karena masih rendahnya penghargaan yang diberikan kepada para freelancers.

Namun, kecenderungan meningkatnya penghasilan dari freelancers di Indonesia sudah mulai dapat dirasakan dengan munculnya perusahaan-perusahaan startup serta banyaknya perusahaan konvensional yang mulai memanfaatkan tenaga-tenaga lepas untuk menekan biaya yang harus dikeluarkan perusahaan.

So, bukan pilihan yang keliru jika generasi millenial di Indonesia saat ini mulai berpikir untuk menjadi bagian dari freelancers, karena kesempatan untuk memperoleh job dari skill yang  mereka miliki semakin terbuka lebar dengan penghasilan yang juga menjanjikan.

Sudah barang tentu besarnya penghasilan tersebut akan selaras dengan skill dan kualitas kerja yang dihasilkan. Sehingga mengasah bakat dan ketrampilan serta meningkatkan skill menjadi kebutuhan wajib jika ingin bisa hidup dengan hanya mengandalkan profesi sebagai freelancer. (*)

Featured image by Sabine Peters on Unsplash

Leave a Comment